Rabu, 11 Januari 2017

Kampung Islam Manado Tempo Dulu





Oleh: Adrianus Kojongian






Pemandangan di stad Manado tahun 1930-an







Kampung Islam Manado, sekarang kelurahan di Kecamatan Tuminting dengan ciri menonjolnya Masjid Agung Awwal Fathul Mubien, sebenarnya bertumbuh dari pendatang-pendatang Islam asal Maluku, yang datang dari Ternate sejak akhir abad ke-17. Pendatang awal ini termasuk kemudian keturunannya dipekerjakan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai milisi pertahanan Manado yang dikenal dengan nama Schutterij Manado. Mereka trampil mengendalikan kora-kora yang melakukan patroli di pesisiran pantai Sulawesi Utara, serta menjaga keamanan kota Manado.

Awalnya yang dimaksud dengan Kampung Islam Manado di masa Belanda, mencakup semua warga Muslim yang keturunannya sekarang tersebar di Kampung Islam Tuminting, Kampung Pondol, sekarang masuk Kelurahan Wenang Selatan Kecamatan Wenang. Kemudian juga Kampung Ternate, Ketang Tua, serta Kampung Ketang Baru, sekarang di Kecamatan Singkil. Malahan penduduk awal Kampung Arab Manado, sekarang kelurahan Istiqlal di Kecamatan Wenang sampai paruh kedua abad ke-19 masuk wilayah yang diperintah oleh pemimpin Kampung Islam Manado. 

Kampung Islam Manado sendiri telah berkembang dengan pendatang-pendatang beragama Islam dari kawasan lain Indonesia, seperti Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Termasuk keturunan para pejuang yang telah diasingkan Belanda. Mereka rata-rata bermata pencaharian sebagai pedagang dan nelayan, tapi dominan menjadi serdadu dalam Garnisun Schutterij Manado hingga akhir abad ke-19.

Tidak heran, tempo dulu, Kampung Islam Manado istimewa sekali di mata Belanda. Terlepas dari pemerintahan dibawah kepala orang Minahasa di Manado, yakni Kepala Distrik Manado, seperti orang Tionghoa, Kampung Islam pun memiliki seorang pemimpin tersendiri. Pemimpinnya hanya bertanggungjawab kepada Kontrolir Manado. Mereka pun, terutama keturunan Islam dari Maluku, serta perkawinan-perkawinan yang terjadi, digolongkan oleh Belanda sebagai orang Borgo (burger) Islam.

SATU KAMPUNG
Belanda mencatat pula Kampung Islam Manado saat itu sebagai satu lokasi kesatuan saja, dengan nama Islamsche Kampong atau Mohammedaansche Kampong atau Maleische Kampong (Kampung Melayu). Letaknya sampai akhir tahun 1890-an hanya disebut berada di bezuiden de Menado-rivier, atau di selatan sungai Manado (sungai Tondano). Sementara pemukiman di bagian utaranya didiami oleh Borgo Kristen.

Secara administrasi, Kampung Islam Manado resmi dinamai Wijk Leter H, dipimpin oleh kepala bergelar Wijkmeester. Kemudian kepalanya disebut Kepala Kampung, lalu balik ulang Wijkmeester.

Wijkmeester pertama Kampung Islam yang dikenal adalah tokoh bernama Hassan Nurlakip di tahun 1842. Hassan Nurlakip sebagai Hoofd der Mohammedanen Manado, diberi pangkat tituler dengan rang Letnan (Luitenant).

Hasan Nurlakip pun memimpin pasukan Islam dalam Schutterij Manado dengan pangkat militer Letnan Dua, dibawah komandan seluruh Schutterij Manado Kapitein Roeland Celosse.

Tahun 1846 Montaram Joedoe Koesoemo (ditulis Kasoemo) diangkat menggantikan Hasan Nurlakip. Ia pun sebagai Letnan Kepala Orang Islam Manado, juga Letnan Dua Schutterij Manado.

Tahun 1850 posisi Montaram Joedoe Koesoemo digantikan Djoar, baik sebagai Wijkmeester Leter H Kampung Islam, mau pun kedudukan Letnan Islam Manado dan Letnan Dua di Schutterij Manado.

Seperti Hasan Nurlakip dan Montaram sebelumnya, otomatis Djoar pun jadi anggota Wees-en Boedelkamer (Balai Harta Peninggalan) Keresidenan Manado.

Tahun 1852 Djoar dengan semua jabatannya diganti oleh Ong Buntjo. Namanya ditulis juga sebagai Ong Bon Tjo atau pula Bongso. Kemudian tahun 1857 dipegang Baba Sankilang, dan sejak tanggal 19 Maret 1862 Kitjil Ali atau juga disebut dengan nama Ketjil Ali menjadi pemimpin.

Kitjil Ali memegang jabatan-jabatan rangkap demikian sangat lama. Tahun 1884 Belanda telah melakukan perombakan. Wijk (kampung) di Manado dari sembilan tinggal tiga. Wijk Leter H dari Kampung Islam dihapus. Sebutan Wijkmeester khusus di pemukiman Borgo Islam dan Borgo Kristen diganti dengan istilah Kepala Kampung, namun di tiga wijk (Leter A dan Leter B khusus untuk orang Eropa serta Leter C untuk orang Tionghoa tetap memakai istilah Wijkmeester. Kitjil Ali tetap pula sebagai Kepala Kampung, juga Letnan Islam Manado.

Baru tahun 1885 di tanggal 13 Maret, setelah menjabat selama 23 tahun, Letnan Kitjil Ali digantikan oleh Raden Pandji Rio Koesoemo.

Raden Pandji Rio Koesoemo memimpin Kampung Islam Manado sampai diganti oleh Djoenoe Djakaria alias Hasan 16 Februari 1893.

Djoenoe Djakaria tidak lagi dicatat sebagai Letnan Dua Schutterij di tahun 1898. Penggantinya adalah Oemar Jasseh di tahun 1903, sebagai Kepala Islam Manado, dengan titel kembali sebagai Wijkmeester.

ARAB MANADO
Tahun 1906 Kepala Kampung Islam Manado Wijkmeester Oemar Jasseh diganti oleh Sech Farai bin Mohamad Wakid, seorang pedagang Arab terkenal. Sebagai Kepala Kampung Islam Manado, Sech Farai pun memperoleh titel Wijkmeester.  

Titel Letnan Islam Manado sendiri telah dihilangkan sejak masa Oemar Jasseh, karena kepemimpinan orang Islam di Manado oleh Belanda disatukan dengan kepemimpinan warga Arab dan keturunannya di bawah Said Mansjoer bin Abdoelah Alhasni, yang telah diangkat menjadi Letnan Arab (Luitenant der Arabieren) Manado 28 Februari 1895 (baca pula: Letnan dan Kampung Arab Manado).

Ketika kemudian Sech Farai bin Mohamad Wakid tanggal 15 Mei 1909 naik jabatan, diangkat sebagai Letnan Arab Manado mengganti Said Mansjoer, posisi Wijkmeester Kampung Islam dibiarkan lowong. Sejak saat itu penduduk Islam di Kampung Islam Manado secara otomatis berada dibawah kepemimpinan Letnan Arab Manado.***



Inilah Kepala Kampung Islam Manado




No.
Nama
Periode
Keterangan
1.
Hassan Nurlakip
1842
Luitenant/Wijkmeester
2.
Montaram Joedoe Koesoemo
1846
Luitenant/Wijkmeester
3.
Djoar
1850-1852
Luitenant/Wijkmeester
3.
Ong Buntjo, Bongso
1852-1857
Luitenant/Wijkmeester
4.
Baba Sankilang
1857-1862
Luitenant/Wijkmeester
5.
Kitjil Ali
19 Maret 1862-1885
Luitenant/Wijkmeester lalu Kepala Kampung
6.
Raden Pandji Rio Koesoemo
13 Maret 1885-1893
Luitenant/Kepala Kampung
7.
Djoenoe Djakaria alias Hasan
16 Februari 1893-1903
Luitenant/Kepala Kampung
8.
Oemar Jasseh
1903-1906
Wijkmeester
9.
Sech Farai bin Mohamad Wakid
1906-15 Mei 1909
Wijkmeester/Luitenant Arab.




*).Foto koleksi Rijkmuseum nl.

BAHAN OLAHAN:
Delpher Kranten.
Ensiklopedia Tou Manado.
Google Books.
Almanak voor het jaar 1843,1848,1850,1853,1858,1860,1861,1869,1870.
Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin:
Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie 1872,1875, 1879,1880,1882,1884,1886,1889,1890,1892,1894,1899,1905,1907,1910,1912.