Sabtu, 10 Desember 2016

Raja-raja Manado yang Diinternir Belanda (1)

 

 

 

 

 

Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 

 

 

Raja Loloda Mokoagow salah seorang penentang Belanda. 
Kuburnya di sipat Motoboi dan Poyowa. *).


 

 

 

Selama pemerintahan kolonial Belanda, baik masa Kompeni (VOC) mau pun Hindia-Belanda, ada banyak raja dan bangsawan di bekas Keresidenan Manado yang menentang kekuasaan Belanda. Kendati perlawanannya berbeda-beda, latarbelakangnya adalah bentuk penolakan terhadap perjanjian-perjanjian yang dibuat, dengan banyaknya pasal larangan yang harus diteken ketika mereka dilantik secara resmi. Para raja merasa memiliki kekuasaan adat yang tidak terbatas dan melampaui janji dalam kontrak serta sanksi hukum buatan kolonial.

Dari sekian banyak raja yang ditangkap kemudian diasingkan oleh Belanda, perlawanan tiga raja, yakni Salomon Manoppo dan Johannis Manuel Manoppo dari kerajaan Bolaang Mongondow, serta Jacobus Ponto dari Siau paling terkenal.

Raja Salomon Manoppo ingin mengembalikan luasan wilayah yang pernah dikuasai kakeknya. Raja Johannis Manuel Manoppo mencoba menghancurkan kekuasaan Belanda di Manado, sementara Raja Jacobus Ponto berupaya melawan Belanda dengan bantuan kekuatan asing.

Perlawanan para raja tidak sampai meletus menjadi pemberontakan resmi, karena segera tercium dan ditangkal dengan penangkapan. Upaya Raja Johannis Manuel Manoppo dengan 200 orang pengiringnya untuk menduduki Manado dengan menyerang pusat kekuasaan Belanda, bocor terlebih dahulu, sehingga dirancang siasat untuk menyergapnya ketika ia datang bertemu Residen Manado.

Meski demikian, ada pula raja yang memang bertindak di luar batas sehingga kemudian ditahan Belanda. Ada yang diduga terlibat pembunuhan, namun ada juga yang sengaja dituduhkan melakukan pembunuhan, pembakaran dan bahkan membiarkan pembajakan, termasuk juga dugaan korupsi.

Berikut beberapa raja yang diasingkan Belanda, hanya khusus dari bekas kerajaan yang pernah ada di wilayah yang sekarang masuk Provinsi Sulawesi Utara. Tidak termasuk dari wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Sulawesi Tengah dan Provinsi Gorontalo, meski dari sekian banyak raja yang telah diasingkan Belanda asal eks Keresidenan Manado, paling banyak justru dari kedua wilayah tersebut.

SALOMON MANOPPO
Raja yang juga disebut Salmon Manoppo naik tahta Bolaang dengan meneken perjanjian 15 Januari 1735 menggantikan kakaknya Fransiskus. Seperti ayahnya Raja Jacobus dan kakaknya Fransiskus ia ingin wilayah lama yang sempat dikuasai kakeknya Raja Loloda Mokoagow yakni Manado dan Minahasa. 

Kendati dilarang Belanda, ia meniru kakaknya Fransiskus dan pamannya Salomon Maccalalaq, menerima aliran pelarian orang Minahasa ke Bolaang yang kembali membanjir di tahun 1738.

Kompeni Belanda makin tidak menyukainya karena masalah Mattheus Cacaboel yang terlibat pembunuhan dan pajak seperti tercatat dalam surat resmi Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff 31 Desember 1743.

Tahun 1747 ia ditangkap Belanda dengan tuduhan merusak tanda-tanda perbatasan dengan Minahasa. Namun, dalam surat resmi Gubernur Jenderal van Imhoff 31 Desember 1747 dinyatakan ia ditangkap sehubungan dengan konflik antara kerajaannya dengan kerajaan tetangga Bolaang Itang di perbatasan Biontong yang dimiliki Bolaang Itang.

Raja Salomon Manoppo dari Ternate dikirim ke Batavia dan diputus diasingkan ke Cabo de Goede atau Kaap de Goede Hoop (Tanjung Harapan), koloni Belanda di Afrika Selatan sekarang.

Tapi, sepeninggalnya terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin Sadaha bernama Janbat, menuntut pemulangan rajanya. Upaya Belanda untuk mengangkat raja pengganti gagal, apalagi Rijksgrooten yang ditunjuk menjalankan pemerintahan yang memang terkenal antiraja dan diduga telah membuat laporan-laporan mendiskreditkannya, yakni Jogugu Simon Damapolii, Pangeran Marcus Boelansa dan Pangeran Hendrik Manoppo tidak mampu mengembalikan ketenteraman.

Akhir tahun 1754 Raja Salomon Manoppo dikembalikan dari Tanjung Harapan ke Batavia, kemudian ke Ternate dan dilantik ulang sebagai raja. Meski berjanji tidak akan membalas dendam, ketiga orang penentangnya kemudian  dibawa ke Manado. Raja Salomon Manoppo meneken kontrak baru 15 Maret 1756, dimana untuk pertamakalinya nama Bolaang-Mongondow dipakai secara resmi. Batas-batas Bolmong dengan Minahasa dipertegas di Poigar dan Buyat.

Raja Salomon Manoppo mangkat  30 Agustus 1764, digantikan anaknya Eugenius Manoppo.

JACOB MARTHIN LAZARUS
Raja Manganitu yang juga disebut Jacob Marthin Lasarus Quesjee. Ia dilantik menjadi raja pada pertengahan tahun 1722, menggantikan ayahnya Don Marthin Takanetang (Takinita) yang mengundurkan diri karena berusia tua. Ayahnya semula memerintah Manganitu bersama Don Carlos Diamanti (Carlos Piantay). 

Para Bobato dalam pemerintahannya yang terkenal adalah Jogugu Zacharias Tampungang, Jogugu Pieter Katiandagho, Kapitan Laut Salomon Narondo, Kapitan Laut Jacob Dorondo dan Sangaji Simon Tatagou, yang bersama dengannya meneken kontrak 22 Agustus 1747 di Tabukan dengan Gecommitteerde Johannes Pauwen dan Sersan Komandan di Tabukan Hendrik Meelkop.

Tindakan raja Jacob Marthin Lazarus yang masih berusia muda ini banyak tidak berkenan di mata Kompeni. Ia berselisih lama dengan Raja Siau Daniel Jacobus berkaitan pulau Karakitan dan kemudian wilayah Tamako yang dimiliki Siau. Permusuhan selama tiga tahun tersebut baru didamaikan Gubernur Maluku Jacob Christiaan Pielat tanggal 21 Maret 1729 di Benteng Orange Ternate ketika ia bersama Raja Daniel Jacobus meneken kontrak perjanjian damai.   

Namun, Raja Jacob Marthin Lazarus masih memiliki keinginan mencaplok Tamako yang jadi enklave terpisah di pulau Sangihe dan masalahnya tetap berlarut-larut hingga di akhir kekuasaannya.

Perselisihan lainnya terjadi dengan Raja Kandhar Andries Manabung dan juga dengan Raja Tabukan Philip Makaampo yang dapat didamaikan Gubernur Pielat 18 Agustus 1729. Berikutnya lagi ia berselisih dengan Raja Taruna yang baru naik tahta, Dirk Rasubala di tahun 1749.

Raja Jacob Marthin Lazarus enggan mengembalikan budak yang lari dari Tahuna mengingkari perjanjian tertulis yang dibuatnya, sehingga ia dituduh menyembunyikan beberapa pembunuh.

Puncaknya ketika ia menyuruh dua lelaki, seorang bernama Habibi mencari kepala manusia untuk dipakai sebagai kehormatan pada pesta raja, dimana Habibi dan temannya memenggal seorang pria bernama Malasa di Batu Tanggolang.

Ia kemudian ditangkap, ditahan di Manado. Secara resmi Belanda menuduh pemerintahannya tidak teratur, suka bertindak brutal dan berbagai tindakan tidak pantas lainnya. Gubernur Jenderal Jacob Mossel 31 Desember 1750 menyebut kesalahannya sangat merugikan Kompeni.

Tanggal 8 Agustus 1750 ia dibawa ke Batavia dan dibuang ke Cabo de Goede Hoop (Tanjung Harapan). Ia digantikan Pangeran Daniel Katiandagho yang dilantik dengan meneken perjanjian tanggal 23 Juni 1752.

MOHAMAD NOERDIN KOROMPOT
Raja Kaidipang. Diangkat menggantikan Raja Tiaha Toeroeroe Korompot dengan beslit Residen Manado 8 September 1859 nomor 172, dan memperoleh persetujuan Gubernur Jenderal dengan beslit 5 Januari 1860 nomor 8. Ia disertai tiga mantri bobatonya di Manado meneken tambahan perjanjian (suppletoire overeenkomst) dengan pemerintah Hindia-Belanda diwakili Residen Casparus Bosscher 18 Juni 1860. Tambahan kontrak tersebut merupakan pelengkap dari perjanjian yang diteken Raja Tiaha Toeroeroe Korompot  21 April 1855 bersama para mantrinya, yang mempertegas kerajaannya sebagai milik Belanda, serta harus mematuhi seluruh isi pasalnya, dengan sanksi pemecatan bila tidak melaksanakan.

Secara resmi pula pada 18 Juni 1860 hari itu ia dilantik sebagai 'Radjah' Kaidipang, setelah meneken acte van bevestiging dan verklaring. Gelaran lengkapnya Mohamad Noerdin Korompot, Prins van Diets Korompot (famnya masih ditulis Korompoet).

Raja Mohamad Noerdin Korompot menjabat sampai diberhentikan Belanda karena peristiwa pembajakan tahun 1864. Meski tidak terlibat secara langsung, ia dianggap melindungi para pembajak. Pasalnya dalam perjanjian yang ditekennya ia diwajibkan mencegah pembajakan. Ia dituntut harus membantu dalam memerangi pembajakan, tidak mentolerir, membantu atau mendukung para perompak, atau membeli barang rampasan. Juga harus memberikan bantuan bila ada kapal yang celaka atau karam di wilayahnya.

Awalnya ia ditahan di Bintauna, lalu karena masih berpengaruh dan untuk mencegah terjadinya kerusuhan dari warganya yang masih menghormatinya, pada permulaan tahun 1865 ia diasingkan ke Ambon, dimana ia meninggal. 

Penggantinya adalah Pangeran Gongalah Korompot awalnya sebagai pejabat Raja 13 Maret 1865, lalu resmi 'Radja' dilantik di Manado setelah meneken acte van bevestiging en verklaring 23 Oktober 1865. (baca: Mengenal (Beberapa) Raja Kaidipang, dan Tiga Raja Bolaang dan Bajak Laut).

TOGUPAT PONTO
Raja Togupat Ponto naik tahta Bolaang-Itang tanggal 6 Oktober 1873, dilantik di Manado oleh Residen Petrus van der Crab. Ia dipilih menggantikan Raja Israel Ponto (1864-1873). Sebelumnya, Togupat Ponto menjabat sebagai Jogugu sejak masa Raja Daud Ponto (1832-1864).



Raja Togupat belum sempat memperoleh persetujuan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, karena hanya memerintah beberapa bulan. Pada tahun 1874 ia diberhentikan dan ditahan. Tuduhannya karena perkara lama.  

Perkaranya sendiri tergolong sudah kadaluarsa, karena dilaporkan terjadi di masa pemerintahan Residen Joan Pieter Cornelis Cambier (1832-1842). Ketika itu, oleh Landraad ia dihukum untuk tuduhan pembunuhan dan pembakaran. Tapi, sementara menunggu pengesahan vonisnya dari Ambon, ia berhasil melarikan diri.

Residen van der Crab disalahkan, karena mengangkatnya jadi raja, meski sebelumnya sang residen telah diperingatkan oleh Jaksa. Residen van der Crab menjawab tindakannya tersebut adalah untuk kepentingan Belanda.

Raja Togupat telah diasingkan ke Ternate untuk lama hukuman 4 sampai 6 tahun. Namun, di tahun 1876 ia berhasil melarikan diri dari tahanannya dan pulang kembali ke Bolaang-Itang.

Ia ternyata masih disukai penduduk, sehingga cukup lama Bolaang-Itang tidak dipimpin seorang raja. Baru tanggal 7 Oktober 1875 Ali Padir Ponto dilantik di Manado sebagai Raja oleh Residen Mr.Samuel Corneille Jan Wilhelm van Musschenbroek. Ini setelah Ali Padir Ponto meneken acte van verband dan bevestiging, serta memperoleh persetujuan Gubernur Jenderal J.W.van Lansberge 24 Oktober 1876 nomor 3.(baca pula: Mengenal (Sedikit) Raja-Raja Bolang-Itang). 

Kendati demikian, pemerintahannyapun singkat pula. Dengan berbagai tuduhan, Ali Padir Ponto dicopot Residen Manado A.H.Swaving. Kemudian martabat rajanya dirampas dengan keputusan Gubernur Jenderal van Lansberge tanggal 15 Maret 1877.  ***

 
*).Foto koleksi Ayi Modeong

SUMBER TULISAN:
Delpher Kranten
Algemeen Handelsblad 1875, De Locomotief 1876, Het Nieuws van den Dag 1876, Java-Bode 1873,1876, Sumatra-Courant 1876.
Dunnebier,W., Over de Vorsten van Bolaang Mongondow, Bijdragen tot de Taal-,Land-en Volkenkunde, Deel 105 (1949).
Corpus Diplomaticum, Bijdragen tot de Taal-,Land-en Volkenkunde, Deel 96 (1939).
Ensiklopedia Tou Manado
Generale missive van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heeren XVII der Verenigde Oostindische Compagnie, Resources Huygens.
Staten-Generaal Digitaal.