Rabu, 13 Mei 2015

1845, Gempa Menghancurkan di Minahasa









                                                       Oleh: Adrianus Kojongian









Tondano tahun 1847. *)








Minahasa sempat dilanda gempa bumi paling hebat dalam sejarah. Ada sekian banyak gempa terjadi hingga abad ini, tapi, peristiwa yang berlangsung pada hari Sabtu tanggal 8 Februari 1845, lebih seratus tujuh puluh tahun silam ini, terbilang paling besar dan berdampak sangat hebat, karena merusak dan memporakporandakan hampir seluruh tanah Toar-Lumimuut. Korban tewas sampai puluhan orang dan ratusan lain mengalami luka-luka sementara ribuan kehilangan tempat tinggal.

Sayang ada dua versi soal dimana pusat gempa. Penulis terkenal Nicolaas Graafland, demikian pun dengan berbagai cerita rakyat banyak negeri Tombulu, menunjuk episentrumnya berasal dari Gunung Lokon. Tapi, pendataan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mencatat pusat gempa berada di  Laut Sulawesi pada koordinat 1.48°Lintang Utara dan 124,85°Bujur Timur.

Yang berbeda lagi adalah detik awal kejadiannya. BMKG merinci kejadian berlangsung pukul 7.30.00 AM (ante meridiem), artinya di pagi hari. Tapi, berita-berita resmi seperti dimuat berbagai koran di pulau Jawa dan Negeri Belanda, peristiwa gempa baru dimulai pada pukul setengah tiga sore (15.30 PM=post meridiem).

Kekuatan gempa dicatat 7 pada Skala Richter tanpa data kedalaman gempa mau pun tinggi gelombang atau pun berdampak tsunami.

Hampir semua koran masa itu memuat peristiwanya di halaman depan meski sudah sangat basi, karena baru heboh di Negeri Belanda pertengahan bulan September. Artinya, lebih tujuh bulan setelah kejadian. Koran-koran tersebut semua mengutip corong resmi pemerintah Hindia-Belanda yakni Javasche Courant, yang juga baru memuat berita tersebut tanggal 21 Mei 1845.

Seperti di lain tempat Indonesia, dari waktu ke waktu gempa terasa di Keresidenan Manado. Meski hanya gempa berskala kecil. Namun, berdasar pengamatan masa itu, selama dua atau tiga tahun terakhir, ada lebih sepuluh kali guncangan gempa. Ini telah menyebabkan beberapa kerusakan besar, sehingga penduduk Manado mengkhawatirkan konsekuensi serius akibat gempa yang lebih besar nanti.

Kekhawatiran mereka terbukti ketika Sabtu sore 8 Februari 1845 pukul setengah tiga, terjadi gempa hebat. Guncangannya hanya berlangsung selama limapuluh sampai enampuluhdetik. Namun, akibatnya dahsyat. Rumah-rumah Minahasa yang sebagian besar terbuat dari kayu dan berdiri di atas pengalas batu bergetar hebat lalu ambruk dan hancur. Di banyak rumah lainnya, akibat getaran gempa membalik lemari dan perabotan dan barang rumah tangga seperti lampu dan gelas serta peralatan lain yang terbilang luks masa itu hancur atau rusak parah.

Sebagian besar penduduk Manado harus melihat kerusakan yang terjadi dengan syok dan sedih. Tapi, untungnya di ibukota (wilayah Distrik Manado, pusat pemerintahan masa itu mencakup antara lain Sindulang dan Kampung Ternate, sekarang masuk Kecamatan Tuminting Kota Manado) tidak ada orang yang kehilangan nyawa mereka.

Benteng (fort) Amsterdam yang berada tidak jauh dari pantai mengalami kerusakan parah, dindingnya pecah dan hancur di semua sisi. Kelak di kemudian hari benteng Amsterdam diperbarui, dan diberi nama Nieuwe Amsterdam=Amsterdam Baru. 

Sementara bangunan batu sebagian besar runtuh dan tidak dapat digunakan. Terutama adalah bekas rumah kediaman residen yang telah dijadikan kantor mengalami kerusakan parah. Bagian depannya benar-benar runtuh, sehingga dianggap perlu dibongkar. Residen Manado Abraham Isaac van Olpen (1843-1850) mendiami sebuah bangunan kayu yang cukup besar, terletak agak jauh ke samping.

Perumahan di pusat kota Manado umumnya menderita. Tapi di kompleks perumahan penduduk Eropa (Letter A-F), hanya satu rumah yang runtuh. Kompleks Kampung Cina (Letter G, sekarang Kecamatan Wenang) menderita karena sebagian besar rumahnya berdiri di atas tiang, selain runtuh dan tidak layak huni, akibat tanah longsor yang terjadi pula.

Nasib sama menimpa rumah-rumah penduduk Minahasa yang ada di Tikala, ibukota Distrik Ares masa itu. Seorang wanita dan seorang anak dinyatakan tewas.

Berjarak enam paal (sekitar 7 kilometer) dari Manado berada negeri Lotta, ibukota Distrik Kakaskasen (sekarang masuk Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa). Gempa meruntuhkan sebuah bangunan besar yang berdiri di atas panggung tinggi. Saat kejadian, bangunan tersebut disesaki hampir seratus orang yang sedang melaksanakan satu pesta. Akibatnya, semua orang terkubur dibawah balok dan papan. Tapi, ajaib karena hanya satu wanita saja yang tewas. Sisanya selamat meski banyak yang mengalami cedera dan memar.

Jauh dari sana, di negeri Kakaskasen, masih distrik sama (sekarang masuk Kecamatan Tomohon Utara Kota Tomohon), kebanyakan rumah penduduk roboh. Empat orang tewas, dan terluka sebanyak dua puluh orang.

Di Distrik Tomohon, rata-rata rumah juga roboh atau sebagian hancur. Korban tewas dicatat empat belas orang, dan ada empat puluh korban luka.

Kerusakan di Distrik Sarongsong (sekarang Kecamatan Tomohon Selatan) begitu parah. Semua rumah penduduk telah runtuh, kecuali empat rumah lainnya. Disini lima orang penduduk kehilangan nyawa.

Di Tondano, rumah Gubernemen (Loji), dimana Kontrolir tinggal, tiba-tiba runtuh, sehingga barang rumah tangga di dalamnya dan mebel hilang.

Selain rumah Gubernemen ada seratus enam puluh rumah baik besar mau pun berukuran kecil yang runtuh, dan yang lain untuk sebagian besar tidak dapat dihuni lagi karena kerusakan yang terjadi. Dua orang tewas dan dua lain terluka.

Gereja di Tondano ikut rusak parah, sehingga tidak dapat digunakan.

Di negeri-negeri lain dalam distrik Tondano (Tondano-Touliang dan Tondano-Toulimambot), perumahan pada umumnya banyak menderita, Ada korban terluka.

Di Amurang, bentengnya robek, sehingga harus dihancurkan. Rumah-rumah penduduk banyak mengalami kerusakan.

Kerusakan akibat gempa di Tanawangko (ibukota Distrik Tombariri), begitu parah. Selain empat rumah yang selamat, semua rumah lain roboh. Sekitar tiga puluh orang kehilangan nyawa, dan banyak lain yang terluka. Jembatan dan jalan dari Manado ke Amurang turut hancur, sehingga orang yang hendak ke Amurang harus merintis jalan melalui hutan dan kebun.

Kerusakan yang mengakibatkan banyak rumah roboh atau rusak berat terjadi pula di negeri-negeri Distrik Kawangkoan, Rumoong, Tombasian dan Sonder.  Sementara di Distrik Tompaso, Passan, Ratahan, Belang (Ponosakan) dan Tonsawang (Tombatu), hanya sedikit atau bahkan tidak ada kerusakan.

Di Kema (ibukota Distrik Tonsea) dan Likupang (distrik senama), gempa terasa keras, meski tidak menyebabkan kerusakan.

Puncak Gunung Lokon di Kakaskasen pada saat gempa terbelah dan terjadi longsoran. Di Tomohon banyak pohon besar tumbang dan terjadi longsoran batu-batu besar.  Dari pengamatan saat itu, kekuatan getaran gempa di sekitar gunung-gunung sangat terasa.

Di gunung terdekat lain, bernama Talankau (Tolangkow), diantara Tomohon dan Pangolombian (sekarang masuk Kecamatan Tomohon Selatan) terjadi retakan dan sebagian tanah amblas. Seorang pria yang berada di dekatnya terperosok masuk ke dalam lobang. Untung ia terhindar dari bahaya setelah ditolong orang lain.

Setelah gempa Sabtu sore itu, masih hampir setiap hari terjadi gempa susulan. Guncangan terakhir terjadi malam hari tanggal 17 Februari 1845 sekitar pukul duabelas.***
   

 
*).  Lukisan dari Reis door den Indischen Archipel, L.J.van Rhijn, 1851.

BAHAN OLAHAN:                                           
Delpher Kranten:
Algemeen Handelsblad, 15 September 1845.
Arnhemsche Courant, 16 September 1845.
Javasche Courant, 21 Mei 1845.
Leydse Courant, 15 September 1845.
Nederlandsche Staatscourant, 13 September 1845.
Nieuwe Rotterdamsche Courant, 15 September 1845, 18 September 1845.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Minahasa Masa Lalu dan Masa Kini, N.Graafland/Yoost Kullit, 1987.