Senin, 23 November 2015

Hebatnya Keluarga Ratulangi









                                                                Oleh: Adrianus Kojongian











Jozias Ratu-Langie, istri  Agustina, putri Wulankajes, dan di sebelah Wulan, Sam kecil. *).






Kepintaran Doktor Sam Ratulangi, sudah pasti menurun dari ayahnya Jozias Ratulangi, guru tua lulusan Negeri Belanda. Bukan hanya Sam Ratulangi, tapi juga dua orang kakak wanitanya, merupakan wanita-wanita terpintar di zamannya. Dan, karena kepintarannya bisa menempuh pendidikan super tinggi untuk ukuran wanita masa tersebut.  

Jozias Ratu-Langie, (demikian famnya banyak dicatat masa lalu), terlahir di Tondano tanggal 4 Juli 1853. Ia menempuh pendidikan formal untuk menjadi guru di Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzer Tondano, dibawah didikan Guru Kepala Leendert Gerardus van der Hoek, dan Guru Kedua Lambertus Mangindaan, yang lulusan Sekolah Guru di Belanda. Untuk bersekolah di sini juga, kandidat gurunya mesti melalui seleksi ekstra ketat.
                                                                            
Jozias Ratu-Langie lulus dari sekolah pendidikan guru pribumi tersebut tahun 1873 bersama-sama Elias Kandou, murid berasal Tonsea Lama. 

Kalau Elias Kandou setelah lulus ditempatkan sebagai guru di Openbare Inlandsche School Airmadidi, penempatan Jozias Ratu-Langie sebagai guru tidak diketahui. Namun, dalam ujian seleksi calon guru yang akan dipilih untuk mengikuti pendidikan guru tinggi di Rijkskweekschool di Haarlem Negeri Belanda, Jozias dan Elias berhasil terpilih mewakili Keresidenan Manado. Terpilihnya keduanya adalah dibawah penilikan langsung guru Van der Hoek dan Lambertus Mangindaan, dengan menyisihkan banyak kandidat yang pintar-pintar pula.

Ternyata, dari seluruh Indonesia (masih Hindia-Belanda), yang lolos seleksi pendidikan ke Negeri Belanda hanya tiga orang saja. Dua dari Minahasa, yakni Jozias Ratu-Langie dan Esau Kandou. Guru lainnya dari Jawa, berasal Muntilan mewakili Keresidenan Kedu (sekarang di Kabupaten Magelang Jawa Tengah), adalah Raden Kamil.

Akhir bulan April 1878 itu juga keduanya dengan stooms (kapal uap) ‘Prins van Oranje’ yang dinahkodai Ankes bertolak ke Belanda dari Batavia. Mereka mulai bersekolah di Rijkskweekschool di kota Haarlem.


Setelah bersekolah hampir dua tahun, Jozias Ratu-Langie berhasil lulus dan meraih acte-examens voor Hulponderwijzers yang berlangsung tanggal 21 September 1880.

Lulus bersama juga Elias Kandou dan Raden Kamil. Dari pencatatan siswa lulusan Provinsi Noord-Holland tersebut, ujian voor guru bantu itu telah diikuti 16 kandidat, 10 berhasil lulus dan 6 gagal. Hebatnya, karena orang Indonesia, khususnya Minahasa bisa membuktikan kepintarannya diatas rata-rata peserta orang Belanda.

GURU SEKOLAH RAJA
Ketiganya baru tiba kembali di Batavia dari Amsterdam awal bulan Maret 1881, juga menumpang kapal uap Prins van Oranje. Jozias Ratu-Langie ditetapkan untuk sementara sebagai guru klas 3, ditempatkan di School voor Zonen van Inlandsche Hoofden en van andere aanzienlijke inlanders di Tondano. Sekolah mana lebih terkenal sebagai Hoofdenschool atau Sekolah Raja, karena para muridnya merupakan putra-putra para raja, kepala-kepala pribumi lain dan tokoh-tokoh yang derajatnya dieropakan.


Bulan Maret 1886 Jozias Ratu-Langie dikukuhkan sebagai Inlandschen hulponderwijzer  van den 1 sten rang di sekolah tersebut.

Tidak seperti temannya Elias Kandou yang berpindah-pindah tempat tugas, Jozias Ratu-Langie tetap menjadi guru di Sekolah Raja. Sayang, Jozias Ratu-Langie meninggal di usia 51 tahun, tanggal 7 April 1904 di Tondano.

Dari perkawinannya tahun 1882 dengan Agustina Petronela Gerungan (7 November 1847-19 November 1911), yang putri Majoor Kepala Distrik Tondano-Touliang Jacob Gerungan, terlahir anak-anak super pintar pula. Tiga anak yang banyak disebut, adalah: Wulankajes Rachel Wilhelmina Maria Ratu-Langie, Wulan Ratu-Langie, dan pahlawan nasional Dr.Sam Ratu-Langie.

Wulankajes Rachel Wilhelmina Maria Ratu-Langie (Tondano, 2 April 1883-Tondano, 17 Juni 1971), si sulung bersekolah di Sekolah Raja Tondano dan meraih akte dari kleinambtenaars examens tahun 1898. Ia kemudian kawin dengan Alexander Supit, kelak Kepala Distrik Tondano.

DR.G.S.S.J.RATU-LANGIE
Gerungan Saul Samuel Jacob Ratu-Langie (Tondano, 5 November 1891-Jakarta, 30 Juni 1949), yang lebih terkenal dengan nama Sam Ratu-Langie (kini Ratulangi) banyak orang telah membahasnya. Namun, kepintarannya perlu disentil.


Di Belanda, tanggal 9 September 1915, ia berhasil lulus Examen Wiskunde M.O (Middelbare Onderwijs) yang berlangsung di ‘s-Gravenhage.


Lalu Wiskunde LO (Lager Onderwijs) akte di ‘s Gravenhage juga Mei 1917. Kemudian, karena tidak diperkenankan untuk menempuh ujian karena alasan tidak memiliki ijazah HBS atau sederajat, ia pindah kuliah di Universitas Zurich di Swiss, dan tanggal 17 Desember 1918 meraih gelar doktor dalam Natuur Philosophie (doctor’s degree in science=ilmu pasti dan alam).

Riwayat perjuangannya yang heroisme bersebaran di mana-mana. Tapi, kejeniusannya ikut menular kepada semua anaknya pula yang sama-sama jadi akademisi. Lihat saja nama dan gelaran mereka. Anak dari istri pertama bernama Susi Emilie Suzane Houtman (Batavia, 12 Agustus 1890-Fitzroy Australia, 1951) yang juga meraih gelar doktor geneeskunde dari Universitas Amsterdam Januari 1919, ada Dr. Corneille Jose Albert ’Oddy’ Ratu Langie (lahir 26 Juni 1920), dan Prof. Dr. Emilia ‘Zoes’ Augustine Ratu-Langie (Bandung, 23 Juli 1922).


Sementara dari istri kedua yang dikawini 23 Juni 1928 di Buitenzorg, Marie Catharina Josephine Tambajong (Amurang, 2 Maret 1901-Jakarta, 10 Juni 1983), putri Jan Nicolaas Tambajong, bekas Kepala Distrik di Tompaso, Rumoong-Tombasian, Maumbi dan Kakas-Remboken, ada tiga putri.


Milia ‘Milly’ Maria Matulanda Ratu-Langie (Pengalengan, 3 Mei 1929-Papua, 5 Agustus 1996), lalu Dr. Ir. Everdina Augustina Matulanda  ‘Lani’ Ratu-Langie (Batavia, 21 Desember 1932), dan Dr. Wulanrugian ‘Uki’ Manampira Ratu-Langie (Bandung, 1 Februari 1938).

WULAN RATU-LANGIE
Kakak kedua Dr.Sam Ratu-Langie, yakni Wulan Ratu-Langie mempunyai inisial nama hampir sama persis dengan kakak tertuanya, W.W.M.R.Ratu-Langie, sesuai nama pada pembeslitan tugas gurunya. 


Dari pemberian status sama dengan orang Eropa bulan Juli 1914, nama penerima Wulangkajes Wilhelmina Maria Rachel Ratu-Langie kalau diinisialkan juga menjadi identik W.W.M.R.Ratu-Langie, namun, bisa jadi dia adalah kakak tertua Wulan, yang sekarang banyak dituliskan Wulankajes Rachel Wilhelmina Maria Ratulangi, karena juga penerima status dicatat di Manado.


Sementara Wulan Ratu-Langie (kelahiran Tondano, 1 Maret 1886), saat bersamaan sementara bersekolah di Batavia. Bulan Mei (bulan kelulusan sekolah-sekolah di Hindia-Belanda masa itu) di tahun 1914, ia berhasil lulus Europeesch Onderwijzeres-examen, menjadi wanita Indonesia pertama yang meraih akte demikian.

Pembeslitannya sebagai guru dengan nama inisial W.W.M.R.Ratu-Langie tidak banyak. Agaknya Wulan ditempatkan pertama kali di Manado, mengajar di Sekolah Klas 3, sebab bulan Februari 1915, ia dipindah ke Sekolah Klas 2 Manado.

Namun, bulan Desember 1915, keluar penempatannya di Openbare Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Bangkalan Madura. 


Kemudian tidak ada berita lagi, sampai muncul  pemberitaan penugasannya kembali di HIS Tondano, pindah dari HIS Langowan terhitung 17 April 1931.


Tidak lama, karena bulan Juli 1932, ia diposting dari HIS Tondano ke HIS Manado.

Dan, pada September 1934, ia diperbantukan pula mengajar di Europeesche School Kedua Manado.

Di masa akhir hidupnya, Wulan Ratu-Langie yang tetap berstatus nona, tercatat sebagai guru Gouvernement Meisjesschool Manado, juga Ketua Pertalian Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT). Menderita sakit parah, ia berobat ke Batavia, dan tanggal 31 Agustus 1936 meninggal dunia.


Dari iklan keluarga yang dibuat Dr.Sam Ratu-Langie, ia dinyatakan akan dikuburkan di pemakaman Tanah Abang Jakarta. Namun, kemudian, minggu berikutnya jenasahnya dibawa dan dimakam di Tondano.

                                                                                                                                             
*). Foto dari Lani’s Blog, ‘Sam Ratu Langie’s Parents&Sisters’.

BAHAN OLAHAN:
DELPHER KRANTEN
Algemeen Handelsblad 2 Maret 1881
Bataviaasch Nieuwsblad 23 Maret 1886, 14 Juli 1914, 13 Februari 1915, 23 Juni 1928.
De Indische Courant  9 April 1931.
De Standaard 23 September 1880.
De Tijd 11 Mei 1914, 11 September 1915, 9 Juni 1917.
Het Nieuws van den Dag 24 April 1886, 16 Februari 1915, 16 Oktober 1915, 1 September 1936, 2 September 1936, 8 September 1936.
Java Bode 26 November 1880, 23 Maret 1886.
Rotterdamsch Nieuwsblad 13 September 1915, 7 Desember 1915.
Soerabaiasch-Handelsblad 20 Juli 1932, 21 September 1934.
            ENSIKLOPEDIA TOU MANADO
Posting Komentar